Konservasi Penyu Belimbing (Dermochelys Coriacea)

Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) merupakan sejenis penyu raksasa dan satu-satunya jenis dari suku Dermochelyidae yang masih hidup. Penyu belimbing merupakan penyu terbesar di dunia dan reptil keempat terbesar di dunia setelah 3 jenis buaya. Berat penyu belimbing dapat mencapai 700 kg dengan panjang dari ujung ekor hingga moncong dapat mencapai lebih dari 305 cm. Penyu belimbing dikenal oleh masyarakat dengan sebutan penyu raksasa, penyu kantong, atau mabo. Dalam Bahasa Inggris disebut leatherback sea turtle.

Penyu belimbing dapat diidentifikasi dari karapasnya yang berbentuk seperti garis-garis pada buah belimbing. Karapas tersebut tidak ditutupi oleh tulang, tetapi hanya ditutupi oleh kulit dan daging berminyak. Karapas penyu belimbing dewasa berwarna kehitaman atau coklat tua dengan bercak putih pada bagian atas dan putih dengan bercak hitam pada bagian bawah. Kepala penyu belimbing berbentuk kecil, bulat, dan tanpa sisik seperti penyu yang lain. Penyu belimbing mempunyai paruh yang lemah tetapi berbentuk tajam dan tidak punya permukaan penghancur atau pelumat makanan. Tubuh penyu jantan dewasa berbentuk lebih pipih dibandingkan penyu betina, perut mempunyai cekungan ke dalam, pinggul menyempit, dan parut badan tidak sedalam pada penyu betina.(https://hayunosakurablog.wordpress.com/2014/01/03/penyu-belimbing-dermochelys-coriacea/)

tukik penyu belimbing hasil penetasan
tukik penyu belimbing hasil penetasan

Penyu belimbing termasuk binatang langka dan dilindungi, sehingga tempat konservasi penyu belimbing dibuat untuk melindungi dan menangkarkan penyu belimbing. Beberapa lokasi konservasi dan penangkaran penyu di Provinsi Jawa Timur, yaitu di Kabupaten Pacitan, Taman Kili-Kili Kabupaten Trenggalek, Pantai Serang Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Kabupaten Jember, serta Pantai Cemara dan Pondok Nongko di Kabupaten Banyuwangi. Namun, sejalan waktu beberapa jenis penyu (termasuk penyu belimbing) sudah jarang dijumpai bertelur, sehingga dapat menghambat kegiatan konservasi penyu belimbing. Hal tersebut disebabkan oleh semakin banyak aktivitas malam hari menggunakan cahaya yang dilakukan oleh penangkap benur lobster, sehingga mengakibatkan penyu belimbing tidak mau bertelur karena penyu belimbing merupakan biota yang sangat peka terhadap rangsangan cahaya.

Kegiatan pembinaan dengan Pokmaswas Bina Samudra Kabupaten Blitar
Kegiatan pembinaan dengan Pokmaswas Bina Samudra Kabupaten Blitar

Oleh karena itu, pembinaan tentang pentingnya konservasi penyu belimbing kepada masyarakat pesisir (khususnya nelayan) diperlukan agar dapat mengurangi aktivitas malam hari di pesisir menggunakan cahaya yang berlebihan. Peran dan sinergitas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Perikanan Kabupaten/Kota se-Jawa Timur dan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) juga sangat dibutuhkan dalam kegiatan konservasi penyu belimbing untuk melindungi dan melestarikan penyu belimbing. (bidangkpp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here