Bulan September 2019, Produksi Ikan Lemuru dan Tongkol Melonjak di Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap

0
46

Pondokdadap (07/10) mendekati akhir musim penangkapan ikan, produksi Unit Pelaksana Teknis Pelabuhan Perikanan (UPT PPP) Pondokdadap di Bulan September 2019, kembali mengalami penurunan meski tidak signifikan. Pada Bulan September 2019, produksi perikanan PPP Pondokdadap hanya mengalami penurunan sebesar 9%, dimana sebelumnya pada Bulan Agustus 2019 angka produksi ditutup pada angka sebesar 1.215.356 kg, kini di Bulan September 2019, produksi perikanan menurun pada angka 1.100.585 kg. Trend yang negatif ini dapat diamati pada hasil produksi ikan-ikan pelagis besar yang mengalami penurunan produksi selama Bulan September 2019.

Produksi ikan lemuru (Sardinella sp.) kini menduduki posisi puncak, menggantikan posisi ikan layang yang menjadi ikan dengan volume produksi terbesar di Bulan Agustus 2019 lalu. Produksi ikan lemuru di Bulan September 2019 tercatat sebesar 241.82 ton atau sebesar 22 % dari total nilai produksi, sementara ikan cakalang berada di posisi kedua dengan nilai produksi sebesar 239,12 ton atau sebesar 22% dari total nilai produksi. Ikan tongkol (Auxis spp., Sarda sp., Euthynnus affinis) berada di posisi ketiga dengan nilai produksi sebesar 167,23 ton atau sebesar 15% dari total nilai produksi disusul dengan ikan layang pada posisi keempat dengan nilai produksi sebesar 128,70 ton atau sebesar 12% dari total nilai produksi.  Maskot Pelabuhan Perikanan pantai Pondokdadap, ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) pada bulan ini turun dua peringkat ke peringkat lima dengan nilai produksi sebesar 110,87 ton atau sebesar 10% dari nilai produksi. Sementara ikan albakor (Thunnus alalunga) pada Bulan September hanya berada di posisi keenam dengan nilai produksi sebesar90,50 ton atau sebesar 8% dari total nilai produksi. Ikan layur (Trichiurus lepturus) menduduki posisi ketujuh dengan nilai produksi sebesar 40,70 ton atau sebesar 4% dari total nilai produksi, sementara posisi kedelapan diduduki oleh ikan tuna mata besar (Thunnus obesus) dengan nilai produksi sebesar 36,70 ton atau sebesar 3% dari total niali produksi. Sementara sisanya diisi oleh ikan salem (Scomber sp.) dengan nilai produksi 12,95 ton (1%), ikan lemadang (Coryphaena hippurus) dengan nilai produksi sebesar 12,79 ton (1%), dan ikan lain – lain seperti ekor merah, peperek, dan marlin dengan nilai produksi total 19,21 ton (2%).

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Agustus 2019), produksi tuna (yellowfin dan bigeye) di UPT PPP Pondokdadap mengalami kenaikan sebesar 21%, dari angka 121,80 ton di Bulan Agustus menjadi 147,56 ton di Bulan September. Kenaikan ini juga diiringi oleh kenaikan persentase komposisi tuna sirip kuning berukuran besar yang didaratkan, dimana pada Bulan Agustus 2019, dari total ikan tuna sirip kuning yang didaratkan, sekitar 31,68 ton (26%) merupakan ikan tuna berukuran diatas 20 kg, sementara pada Bulan September 2019, dari total ikan tuna sirip kuning yang didaratkan, 29,89 ton (27%) diantaranya merupakan ikan tuna sirip kuning berukuran diatas 20 kg. Kenaikan persentase komposisi sebesar 1% ini menandakan bahwa cohort ikan tuna yang ditangkap selama dua bulan memiliki tingkat komposisi yang stabil, dimana tuna yang berukuran besar kemungkinan telah melewati kawasan penangkapan nelayan UPT PPP Pondokdadap semenjak bulan lalu.

Pada grafik diatas, dapat diamati bahwa terjadi beberapa penurunan pada nilai produksi beberapa ikan ekonomis penting yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pondokdadap. Selain ikan tuna, dinamika nilai produksi juga terjadi pada jenis – jenis ikan lain, seperti pada ikan cakalang yang mengalami penurunan sebesar 34%, dimana pada Bulan Agustus angka produksi ikan cakalang sebesar 362,90 ton menjadi 239,12 di Bulan September. Sementara penurunan yang paling tajam dialami oleh ikan layang, dimana produksi ikan layang pada Bulan Agustus sebesar 456,21 ton mengalami penurunan sebesar 72% menjadi 128,7 ton di Bulan September. Demikian pula Ikan peperek yang pada bulan sebelumnya memiliki angka produksi sebesar 14,71 ton di Bulan Agustus, kini mengalami penurunan produksi sebesar 43% menjadi 8,38 ton di Bulan September, sementara ikan marlin yang memiliki angka produksi sebesar 2,31 ton di Bulan Agustus mengalami penurunan produksi sebesar 21% menjadi 1,83 ton di Bulan September. Kemudian ikan albakor mengalami penurunan sebesar 10% dari angka 101,07 ton di Bulan Agustus 2019 menjadi 90,50 ton di Bulan September 2019. Ikan Swangi yang muncul pada data statistik hasil perikanan di Bulan Agustus, kini tidak terlihat didaratkan di UPT PPP Pondokdadap pada Bulan September.

DIbalik penurunan angka produksi pada beberapa jenis ikan yang terjadi, terdapat beberapa jenis ikan yang mengalami peningkatan nilai produksi di Bulan September. Ikan tongkol mengalami peningkatan tertinggi, yakni sebesar 458% dari angka 29,95 ton di Bulan Agustus menjadi 167,23 ton di Bulan September. Sementara ikan ekor merah mengalami peningkatan terbesar kedua, yakni sebesar 418%, dimana produksi ikan ekor merah di Bulan Agustus sebesar 1,73 ton menjadi 8,99 ton di Bulan September. Sementara produksi ikan salem juga mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 326% dari angka 14,71 ton di Bulan Agustus menjadi 8,38 ton di Bulan September. Sementara itu ikan lemuru mengalami peningkatan sebesar 180% dimana produksi ikan lemuru di Bulan Agustus sebesar 86,31 ton menjadi 241,82 ton di Bulan September. Ikan layur mengalami peningkatan produksi sebesar 100% dimana pada Bulan Agustus, produksi ikan layur sebesar 20,39 ton menjadi 40,70 ton dii Bulan September. Sedangkan ikan lemadang hanya mengalami kenaikan sebesar 37%, dimana produksi ikan lemadang pada Bulan Agustus sebesar 9,36 ton menjadi 12,78 ton di Bulan September. (UPT PPP Pondokdadap)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here