Peluang Pasar Komoditas Nila di Amerika Serikat

Negeri Paman Sam nampaknya telah menjadi pelanggan tetap sebagai negara pengimpor nila Indonesia secara rutin dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat secara jelas dalam kurun waktu dua tahun terakhir dimana volume ekspor nila Indonesia ke Amerika Serikat mengalami kenaikan.

Pada tahun 2013, Indonesia menyumbang kebutuhan pasar nila di Amerika Serikat sebanyak 228.927 ton atau senilai 1.030 juta USD. Sedangkan pada tahun 2014, Indonesia berhasil meningkatkan volume ekspor nila ke Amerika Serikat sebanyak 0,8 % dengan total volume 230.738 ton atau senilai 1.110 juta USD. Pada triwulan I tahun 2015 tercatat bahwa ekspor ikan nila Indonesia ke Amerika Serikat telah mencapai angka 71.742 ton atau senilai 328 juta USD. Mengacu pada kenaikan yang terjadi pada dua tahun sebelumnya, dapat diprediksikan bahwa peluang pasar ikan nila pada pasar Amerika Serikat masih dapat terus meningkat hingga lebih dari 300.000 ton sampai dengan akhir tahun 2015.

Namun yang menjadi tantangan adalah Indonesia tidak serta merta merupakan satu-satunya negara penyumbang ikan nila pada pasar Amerika Serikat. Terdapat 31 negara pengekspor nila ke Amerika Serikat diantaranya adalah Cina, Cina-Taipei, Ekuador, Costa Rica, El Salvador, Meksiko, Chile, Colombia, Panama, Peru, Guatemala, Honduras, Seychelles, Brazil, Kanada, Guatemala, Philippines, Thailand, Malaysia, Viet Nam, Indonesia, Kyrgyztan, Swedia, Cina-Hongkong, Nicaragua, Burma, Inggris, Bangladesh, Pakistan, Singapore, dan Italia.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk periode triwulan I tahun 2015, total kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat sebanyak 71.742 ton. Sementara, negara utama pensuplai nila adalah Cina dengan jumlah kontribusi yang fantastis atau hampir mencapai 80% dari total kebutuhan nila Amerika Serikat yaitu sebanyak 56.594 ton atau senilai 236.145.151 USD. Sedangkan Indonesia menduduki peringkat ke-empat dunia sebagai negara pengekspor nila di pasar Amerika Serikat dengan total kontribusi mencapai 2.663 ton (17.552.435 USD) atau menyumbang hanya sekitar 3,7% dari total kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat.

Dengan memperhatikan nilai dan volume ekspor nila Indonesia pada tabel di atas, dapat diperoleh bahwa harga rata-rata nila fillet yang dapat diterima di pasar Amerika Serikat adalah USD 6,6 per kilogram atau senilai Rp. 85.800,- per kilogram (1 USD = Rp. 13.000,-). Sehingga dengan mempertimbangkan ongkos produksi dan biaya pengiriman, untuk dapat dapat menjangkau harga nila di pasar Amerika Serikat, harga lokal nila utuh di Indonesia maksimal dapat menyentuh angka Rp. 14.300,- per kilo (rendemen 32%).

Menilik total kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat pada tabel tersebut, Indonesia masih dapat optimis untuk meningkatkan suplai kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat. Namun Indonesia masih harus melihat ke dalam apakah jumlah produksi nila Indonesia sebanding atau mampu untuk meningkatkan suplai kebutuhan ke pasar Amerika Serikat. Pada tahun 2014 total produksi nasional Indonesia adalah sebesar 912.613 ton. Dari total tersebut, sebanyak 230.738 ton (identik dengan bahan baku sebesar 721.056 ton) telah diekspor ke Amerika Serikat. Hal ini berarti bahwa dengan membandingkan antara total produksi nasional Indonesia 2014 dengan total ekspor ke Amerika Serikat 2014, secara garis besar Indonesia masih mampu untuk meningkatkan suplai kebutuhan nila di Pasar Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Jawa Timur? Apakah Jawa Timur dapat berkontribusi untuk men-suplai nila di pasar Amerika Serikat? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan membandingkan angka produksi nila Jawa Timur dengan angka kebutuhan nila Jawa Timur. Pada tahun 2014, Jawa Timur berhasil memproduksi nila hingga mencapai 49.871 ton. Namun sayangnya, angka ini tidak diimbangi dengan total angka kebutuhan nila di Jawa Timur yang mencapai 56.894 ton (angka konsumsi nila Jawa Timur sebesar 1,48 per kapita per tahun). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Jawa Timur masih belum dapat berkontribusi untuk mensuplai kebutuhan di Pasar Amerika Serikat.

Setelah dapat menggambarkan potensi dan peluang yang dimiliki Indonesia dalam rangka meningkatkan suplai kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat, dapat disimpulkan bahwa Indonesia masih dapat optimis untuk dapat meningkatkan suplai kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat hingga 50% di tahun 2015 namun memang masih harus mempertimbangkan angka konsumsi nila di Indonesia. Sementara Jawa Timur masih harus dengan giat menggenjot produksi nila di Jawa Timur jika ingin berkontribusi mensuplai kebutuhan nila di pasar Amerika Serikat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here