Diseminasi Hasil Perundingan Internasional Peningkatan Akses Pasar Hasil Perikanan

0
384

SSC_News-Surabaya- Diseminasi Hasil Perundingan Internasional Peningkatan Akses Pasar Hasil Perikanan merupakan kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang diselenggarakan di hotel Inna Simpang Surabaya, pada tanggal 6 – 7 Agustus 2015. Kegiatan tersebut resmi dibuka tanggal 6 Agustus oleh Dirjen P2HP, Saut P Hutagalung dan Direktur Pemasaran Luar Negeri, Artati Widiarti. Dihadiri oleh berbagai instansi pemerintahan dan eksportir dalam negeri. Tujuan dari diseminasi kali ini adalah para pelaku eksportir atau yang berkepentingan, dapat memenfaatkan informasi yang di paparkan oleh narasumber dan dapat mengutarakan pendapat, pertanyaan, dan keluhan secara langsung.

Isi sambutan bapak Dirjen P2HP antara lain membahas Generalized System of Preference (GSP), Persiapan MEA, dan berbagai macam persoalan perikanan.

Berikut adalah DISEMINASI HASIL PERUNDINGAN INTERNASIONAL HASIL PERIKANAN :

  1. Perundingan internasional dilakukan dalam rangka peningkatan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar internasional.
  2. Salah satu hasil perundingan perdagangan internasional adalah penghapusan atau penurunan tarif bea masuk di Negara tujuan ekspor, Jika menggunakan form preferensi (Form A, Form E, Form AK, Form IJEPA, dll).
  3. Penurunan tarif yang sudah bisa dimanfaatkan oleh Indonesia adalah di Negara Jepang, Cina, Korea, India, Australia, New Zealand, Pakistan, ASEAN, Uni Eropa dan Amerika Serikat.
  4. Fasilitas penurunan tarif bea masuk bisa dimanfaatkan apabila menggunakan form SKA tertentu untuk masing-masing Negara dan memenuhi syarat-syarat yang telah disepakati dengan masing-masing Negara.
  5. Salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa produk tersebut memenuhi kriteria untuk diakui sebagai produk yang berasal dari negara yang menjalin kesepakatan (ROO). Misalnya:
    – Pengusaha Indonesia mengimpor bahan baku dari Jepang, diolah di Indonesia kemudian diekspor ke Jepang lagi, maka produk tersebut dapat memperoleh tariff bea masuk dengan skema IJEPA
    – Pengusaha Indonesia memproduksi ikan dalam kaleng, ikannya dari cina, kalengnya dari Filipina, garamnya dari Indonesia, sausnya dari Malaysia, jika diekspor ke cina, maka bisa menggunakan form ACFTA untuk mendapatkan tarif bea masuk dengan skema ACFTA
    – Kandungan lokal minimal 40% (RVC 40%).
  1. Jawa Timur termasuk pengguna SKA terbesar di Indonesia, dimana sehari bisa menerbitkan 600-1500 SKA.
  2. Form SKA bukan hanya sebagai dokumen formalitas melaikan salah satu alat / cara untuk mendapatkan keringanan tarif bea masuk >> daya saing meningkat.
  3. Pengurusan SKA dapat diselesaikan dalam waktu 1 hari dengan biaya Rp 5000 per form.
  4. Pengusaha mengharapkan pemerintah dapat lebih aktif dan bersungguh-sungguh dalam melakukan perundingan dengan Negara mitra untuk menurunkan tarif bea masuk, mengingat pesaing dapat mendapatkan manfaat yang lebih dibadingkan Indonesia.
  5. Pengusaha mengharapkan pemerintah dapat mengawal pemanfaatan SKA, sehingga kemungkinan kesalahan penerapan tarif bea masuk dapat dihindari.
  6. Meningkatkan komunikasi antar pengusaha dengan pelaku di Negara tujuan ekspor untuk saling melakukan update informasi preferensi penurunan tarif bea masuk.
  7. Pengusaha diharapkan dapat meningkatkan komunikasi dengan pemerintah apabila ditemukan permasalahan dalam implementasi hasil perundingan.
  8. Permasalahan: Minimnya keikutsetaan FTA  terutama yang bilateral.
  9. Meningkatkan sinergi menuju MEA 2015 dimana preferensi hanya dapat digunakan jika menggunakan SKA ASEAN (SKA ATIGA/ Form D).

Permintaan Datfar tarif yang sudah mendapatkan preferensi  (KKP bersama dinas KP jatim, Dinas Perindag Jatim akan menindak lanjuti).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here