2nd BALI TUNA CONFERENCE dan 5th INTERNATIONAL COASTAL TUNA BUSINESS FORUM 19 – 20 MEI 2016

Dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan di perairan nusantara, laut territorial, zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia dan di laut lepas. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyelenggarakan 2nd Bali Tuna Conference (BTC-2) yang dilaksanakan back-to-back dengan 5th International Coastal Tuna Business Forum (ICTBF-5) pada tanggal 19 – 20 Mei 2016, bertempat di Ballroom Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali. Tema besar kegiatan ini adalah “Sustainability, Traceability, accountability-defining Indonesia’s Tuna Industry” dengan tujuan terbangunnya sinergi di antara seluruh stakeholder perikanan tuna Indonesia dalam melaksanakan tindakan pengelolaan perikanan tuna dari ringkat hulu dan hilir, memenuhi persyaratan pasar produk perikanan tuna, dan juga untuk mempromosikan upaya – upaya pengelolaan tuna Indonesia yang saat ini dilakukan pada tingkat nasional kepada para stakeholder perikanan tuna luar negeri.

Sebanyak 238 peserta hadir dalam kegiatan ini yang berasal dari perwakilan organisasi perikanan regional dan internasional, perwakilan negara tetangga, Kementerian / Lembaga terkait, pemerintah daerah, akademisi, peneliti, asosiasi perikanan dan para pelaku usaha perikanan tuna (produsen, industri pengolahan, eksportir, retailers, brands) baik dalam maupun luar negeri.

Papan informasi tentang jenis ikan yang boleh dan tidak boleh ditangkap pada lokasi kegiatan
Papan informasi tentang jenis ikan yang boleh dan tidak boleh ditangkap pada lokasi kegiatan

Pada kesempatan ini Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengirimkan perwakilan dari bidang perikanan tangkap dan Pelabuhan Perikanan Pantai Pondokdadap – Sendang Biru. Beberapa poin penting yang didapat dari kegiatan ini adalah :

  1. Kontribusi Indonesia 83.000 ton ikan tuna atau 60% untuk perikanan tuna duania dan telah bergabung dengan IOTC (Forum International, share (berbagi), bertukar pengalaman)
  2. Indonesia dipilih oleh FAO untuk partner kebaikan manajemen perikanan seperti jumlah kapal harus dihitung, keberlanjutannya, rekam jejak dan kepatuhannya pada pasar dan pelabuhan harus memiliki perekaman kapal penangkap ikan (pasar sangat dominan saat ini)
  3. Rizal Ramli (Coordinating Ministey for Maritime and Resource of Republik Indonesia) menjelaskan :
  4. Indonesia harus menjadi nomor satu ekspor ikan tuna dan perlu dikaitkan dengan suistainability, traceability, accountability defining Indonesia’s Tuna Industry
  5. Mendukung bisnis tuna agar sukses dengan pengelolaan yang baik.
  6. Menurut Nyoman Sudarto (ATLI) ekspor tuna di Bali tahun 2015 turun 700 ton atau 7 % dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 10.000 ton.

Indonesia merupakan kontributor yang signifikan dalam mengekspor tuna yaitu sekitar 209.410 ton senilai 768,4 juta Dollar AS pada tahun 2013. (bidangtangkap)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here