Memperkuat Mitra Kerja Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Lamongan

0
483

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur (Bidang Pengolahan dan Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan) mempertemukan beberapa stakeholder untuk membahas penguatan kemitraan komoditas ikan segar khususnya udang dalam sebuah kegiatan yang bertema “Sosialisasi Kemitraan Dan Akses Permodalan Komoditas Ikan Segar (Udang) di Lamongan”. Peserta Sosialisasi dihadiri oleh 100 peserta yang berasal dari Kabupaten Lamongan dari unsur: pembudidaya udang, supplier, POKLAHSAR, penyuluh perikanan, dan perwakilan pedagang ikan di Lamongan serta unsure UKM.

Sosialisasi Kemitraan dan Akses Permodalan pada Komoditas Ikan Segar (Udang) ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Memberikan pemahaman mengenai konsep kemitraan hulu hilir usaha perikanan, (2) Menyamakan persepsi mengenai pentingnya good handling, udang yang bermutu, kestabilan harga, dan kontinuitas bahan baku, (3) Memberikan informasi mengenai dukungan program kemitraan dan permodalan dari lembaga keuangan/perbankan, dan (4) Mendorong tumbuhnya peluang pengembangan usaha melalui pola kemitraan.

“Kemitraan ibaratnya seperti partner diharapkan saling menguntungkan dengan asas saling percaya” ujar Ir. Agus Tumulyadi, dosen Universitas Brawijaya Malang. Komitmen untuk selalu setia kepada partner kerja dalam artian harus loyal dalam penjualan dan pembelian. Efisiensi kemitraan harus dipikirkan untuk peningkatan produktivitas seperti memiliki visi dan misi yang sama. Patut dicermati dalam membangun jaringan kemitraan dari hulu hingga hilir yang senantiasa mematuhi legalitas salah satunya berupa tertib dokumen. Tujuan bermitra mengacu pada 1) peningkatan produktivitas 2) peningkatan efisiensi 3) jaminan kuantitas dan kontinuitas 4) risk sharing. Langkah yang penting dalam membangun jaringan kemitraan antara lain mengidentifikasi, menggali, penjajakan bersama, penyusunan rencana kerja, kesepakatan, pelaksanaan kegiatan dan monev (monitoring evaluasi).

Kontinuitas komoditas udang ditentukan oleh stakeholders. Trend utama mendorong perubahan konsumsi sefood secara global ditentukan oleh 1) healthy 2) tracebiality 3) sustainibilty. Tiga hal ini yang menjadi syarat penentu harga dan minat konsumen lokal maupun asing. “Processor dapat berinovasi dan mengakomodisasi udang jika stakeholders dan pembudidaya udang dapat terus meningkatkan produktivitasnya” tegas Komaruddin, nara sumber dari PT. KML Saat ini posisi Indonesia sedang berkompetisi dengan India, Equador dan Vietnam.

Sedangkan dari PT. BMI sendiri menegaskan bahwa menjaga bahan baku supaya tetap dalam kondisi fresh (good handling) sangat penting. Proses ini harus diperhatikan oleh pembudidaya dari produksi hulu hingga hilir (packaging). “Buyer declare untuk pembelian udang syarat yang utama ialah kelengkapan berkas dan kepemilikan sertifikat CBIB, hal ini wajib dan tidak bisa ditolerir” ungkap Deni Eko Wahyudi.

“Kabupaten Lamongan memiliki banyak jenis aneka ragam olahan namun hingga saat ini belum ada produk unggulan untuk Kabupaten Lamongan. Diharapkan dengan mendatangkan peserta dengan komponen yang beragam selanjutnya dapat memotivasi Poklahsar untuk menginisiasi produk olahan unggulan untuk Kabupaten Lamongan.” tegas Kepala Bidang Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan, Ir. Arif Soedjanarto, MM.

Beberapa poin penting hasil dari pertemuan tersebut adalah:

  1. Kemitraan usaha merupakan kerja sama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat dan menguntungkan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan usaha besar. Pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah dengan melibatkan usaha besar yang dilaksanakan melalui prinsip kemitraan dan menjunjung etika bisnis yang sehat merupakan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan UU No 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil, dan menengah.
  2. Dalam membangun jaringan kemitraan, antar pelaku usaha harus berpegang pada prinsip: (a) Kesamaan visi misi, (2) Kepercayaan, (3) Komunikasi, dan (4) Komitmen.
  3. Kontinuitas bahan baku yang bermutu baik merupakan harapan dan tuntutan konsumen. Upaya menjaga mutu udang, khususnya pasca panen (good handling) meliputi prinsip: (1) bersih, (2) dingin, dan (3) cepat. Trend utama yang mendorong perubahan konsumsi seafood secara global adalah bahwa usaha produk pangan harus mengutamakan kesehatan (healthy), ketelusuran (traceability) dan berkelanjutan (sustainability).
  4. Bank JATIM berkomitmen untuk menjadi bank regional terbaik melalui beberapa langkah upaya yaitu (1) pengembangan pasar, (2) Memfasilitasi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, (3) Mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
  5. Potensi industri udang dari hulu hingga hilir perlu dikelola dan dikembangkan bersama oleh semua stakeholder industri udang, termasuk didalamnya adalah menumbuh kembangkan kemitraan usaha yang produktif. (Bidang P3KP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here