Hubungi Kami
Telp. (031) 8281672
Email
diskanla@jatimprov.go.id
News Photo

Ground Cek dan Identifikasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Watu Ulo Kabupaten Jember

Kamis, 25 April 2024 Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jember melaksanakan kegiatan Ground Check dan identifikasi Ekosistem Mangrove di Watu Ulo - Sumberejo Kec. Ambulu Kabupaten Jember. Watu Ulo merupakan salah satu wilayah yang memiliki vegetasi pantai (Cemara Laut) dan ekosistem mangrove dalam jumlah kecil yang terletak pada Teluk Love. Mangrove yang tumbuh di Watu Ulo merupakan hasil penanaman dari Mahasiswa KKN dari Universitas Jember bersama masyarakat pada tahun 2004.

Hasil analisa indeks Kesehatan Mangrove dan Nilai Total Carbon Stok dari data citra satelit Sentinel 2A periode 1 Januari-31 Desember 2023 luas area mangrove di di Watu Ulo 26,89 ha dengan rincian mangrove dalam kondisi sangan baik 5,03 ha, baik 15,2 ha, buruk 4,87 ha dan Daerah Potensial Rehabilitasi 5,03 Ha. Nilai Karbon pada area mangrove 117.125,14 Ton C/Ha dengan Nilai Ekonomi Karbon Rp. Rp7.027.508.193,54 dengan nilai serapan CO2 di Area Mangrove 429.849,26 Ton C/Ha. Berdasarkan hasil pengamatan dibandingkan hasil pemetaan kondisi tersebut sudah sesuai dengan hasil pemetaan. 

Hasil pengamatan di lapangan bahwa jenis mangrove didominasi oleh Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa. Selain itu juga ditemukan jenis Sonneratia alba dan Avicennia sp dalam jumlah sedikit. Biota asosiasi yang terdapat pada area mangrove diantaranya kepiting biola (Uca sp) dan burung blekok. Mangrove telah tumbuh dengan baik dengan rata-rata tinggi 10 meter dan kerapatan 70% dengan jarak tanam 1 meter. Kondisi mangrove tumbuh dengan baik substrat lumpur berpasir dan siklus pasang surut yang sesuai sehingga mangrove dapat berkembang dengan baik. Selain itu masyarakat juga berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan ekosistem mangrove. 

Berdasarkan hasil pengamatan Area mangrove di area watu dikelola secara optimal. Kabupaten Jember juga memiliki area-area yang berpotensi sebagai tempat untuk rehabilitasi, mitigasi, dan pengelolaan kawasan berbasis ekowisata. Dengan catatan perlu adanya pembinaan dan pendampingan terhadap kelompok-kelompok penggiat lingkungan agar bisa berjalan sesuai dengan harapan yaitu lestari dan berkelanjutan


Berita ini telah diakses 66 kali

Share Berita

Komentar